Skip to main content

Teks Cerita Sejarah: 17-an

17 Agustus adalah tanggal istimewa bagi negara Indonesia dimana ketika hari itu tiba akan begitu ramai dan meriah karena akan begitu banyak kegiatan dan aktivitas yang dijalani seperti perlombaan atau pertandingan antar daerah kelurahan, kecamatan, kabupaten maupun kota. Pada tanggal 18 Agustus 2022, SMAN Tanjungsari mengadakan acara 17 agustusan dengan banyak perlombaan-perlombaan yang dilaksanakan di lapangan sekolah. Aku adalah salah satu anggota kelas 12 IPA 4 yang menghadiri acara tersebut. Beberapa anggota kelas kami mengikuti perlombaan yang diantaranya lomba balap karung, makan kerupuk, estafet air, estafet sarung, joget balon, dan tarik tambang.

Seperti lomba 17an pada umumnya, yang selalu disoroti adalah lomba tarik tambang. Tarik tambang merupakan permainan rakyat yang menggunakan alat tambang, dengan cara bermain beregu dan peserta 2 tim yang saling berhadapan yang setiap tim-nya berjumlah 5 orang. Tim Jurusan IPA vs IPS, menjadi salah satu lomba tarik tambang yang bersejarah di SMAN Tanjungsari saat itu. Kelas kami diwakilkan oleh salah satu anggota kelas kami yang terlihat memiliki tenaga yang paling besar diantara yang lain, Aji Firmansyah. Selain itu ada masing-masing perwakilan dari kelas 12 IPA 1 sampai 12 IPA 7, yang diantaranya ada Haki, Bachtiar, Ade, Alzaid, Axel, Restu. Tim-tim lawan mereka memiliki kekuatan yang besar pula, yang membuat perlombaan semakin seru dan suasana yang semakin menegangkan.

Perlombaan dimulai, Tim 10 IPA vs 10 IPS. Mereka memulai keramaian perlombaan tarik tambang. Semua penonton menyemangati perewakilan kelas mereka masing-masing. Disini, aku tidak terlalu memperhatikan perlombaannya, dan lebih memilih menunggu pertandingan yang diwakilkan oleh anggota kelas kami. Aku melihat-lihat perlombaan lainnya, seperti balap karung, estafet air, dan sebagainya. Waktu terus berjalan tanpa mengingatkanku, yang membuatku tidak sadar bahwa pertandingan pertama Kelas 12 IPA akan segera dimulai. Aku segera kembali ke bangku penonton untuk melihat pertandingannya secara langsung. Semua anggota tim bersiap-siap. 12 IPA vs 12 IPS, Aji memimpin tim dengan memegang di garda terdepan. Semuanya tidak ada masalah sampai pertandingan dimulai.

 “Semuanya siap?! 3…2…1…”

Pertandingan dimulai, mereka semua mengerahkan seluruh tenaganya di awal pertandingan ini. Kedua belah pihak menunjukkan kekuatannya dengan saling tarik menarik. Semua penonton ramai menyoraki pertandingan. Aku memperhatikan, masing-masing tim yang saling menunjukkan emosinya. “Ini cukup menyenangkan.” Aku memperhatikannya lebih dekat. Semakin aku memperhatikan kedua pihak yang saling bertanding dengan emosi yang menggebu-gebu, membuatku terpikir tentang perjuangan para pahlawan bangsa di masa lalu. Dalam halusinasi, aku semakin jelas mendengar teriakan para pahlawan yang sedang melawan penjajah. Entah berapa lama aku berhalusinasi, aku tidak menyadari pertandingan yang kutonton terjadi sesuatu. Aku memperhatikan ekspresi para penonton yang terkejut melihat pertandingan.

“Ada apa ini?” Tanyaku pada salah satu penonton.

“Hey, apa kau tidak memperhatikannya? Ada salah satu anggota yang cedera.”

Aku memalingkan perhatianku ke arena pertandingan. Ternyata benar, tanpa sadar sudah ada salah satu anggota yang mengalami cedera. Dia adalah anggota kelas kami, Aji. Dia mengalami cedera telapak tangan. Aji menghampiriku.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanyaku.

“Kamu tidak lihat?” Jawab Aji.

“Maaf, sepertinya aku terlalu cepat membawa cerita ini menuju masalah, ya?”

“Apa yang kau katakan?”

“Bukan apa-apa.”

Aku tidak terlalu peduli terhadap apa yang aku pikirkan saat itu dan langsung mengikuti Aji yang berlari menuju UKS. Sesampainya di UKS, Aji langsung mengambil peralatan medis.

“Biarkan aku yang melakukannya.” Aku mengatakannya tepat di belakang Aji.

“Kenapa kau ada di sini?!” Aji mengatakannya sambil terkejut.

“Tidak apa-apa” Aku langsung mengambil peralatannya dan mengobati Aji.

“Apa yang aku lakukan? Aku sudah mengacaukannya di pertandingannya pertama” Aji mengatakannya pada dirinya sendiri, seolah menyalahkan dirinya sendiri.

“Tapi, kau menang, kan?”

“Ya, sih… Tapi bagaimana kalau aku mengacaukannya lagi di pertandingan berikutnya? Selain itu, kau lihat sendiri tanganku… Aku merasa tidak cukup kuat untuk melanjutkannya.” Aji mengatakannya sembari menunduk seperti seseorang yang sudah menyerah.

 “Aku bukanlah seseorang yang bijak, tapi biarkan aku mengatakan ini…”

Aji memalingkan pandangannya kepadaku.

“Menjadi yang terkuat, bukan berarti menjadi tak terkalahkan. Jadilah seseorang yang pantang menyerah, maka kau akan lebih unggul dari keduanya.” Aku memotivasi Aji.

“Benar juga, dari mana kau dapat kata kata itu?”

“Jangan pedulikan… Percaya lah di 1 pertandingan terakhir kau akan tetap bertahan dan memenangkan perlombaannya.”

“Mengapa kau begitu percaya diri?”

“Jangan pedulikan… Ikuti saja kata-kataku, kau adalah tokoh utamanya!”

Mendengar kata-kata dariku, Aji segera bangkit dan langsung berlari ke luar ruangan UKS menuju arena pertandingan.

Selama kita berada di UKS, pertandingan berlanjut oleh tim lain. Sesampainya di sana Aji langsung berkumpul kembali dengan anggota kelas 12 IPA yang lain.

Waktu pun berjalan cepat tanpa alas, sampai lah pada saat pertandingan terakhir, 12 IPA vs 11 IPS. Aji kembali memimpin tarik tambang di garda depan. Sembari mengingat alasannya berjuang keras, Aji mengerahkan seluruh tenaga nya sampai titik darah penghabisan.

Tanpa ada masalah lain, anggota Kelas 12 IPA yang mengerahkan seluruh tenaga nya, memenangkan pertandingan. Semua penonton bergemuruh menyoraki kemenangan Kelas 12 IPA. Suasana yang ramai membuat Aji semakin bersemangat dan bersyukur memenangkan pertandingannya.

Comments